Tampilkan postingan dengan label Memorabilia Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memorabilia Cerita. Tampilkan semua postingan

Potret Memoar Part I


SI JABANG BAYI

Garut, 17 Syawal hari Sabtu, 12 Mei 1990 telah berlangsung akad nikah antara seorang pejantan tangguh yang bernama Adang Subagja bin Encin dengan seorang gadis perempuan bernama Yanti bin Enda. Ketika itu yang menjadi wali nikahnya adalah Ayah dari Ibu. Dengan mas kawin yaitu seperangkat alat shalat dan uang Rp. 5000 dibayar tunai.
Gadis desa yang berasal dari kota dodol yaitu Garut itu mempunyai perawakan tinggi semampai dengan rambut ikal panjang bak seorang kembang desa di sebuah kampung. Ya itulah sosok Ibuku ketika masih muda, sangat serasi dengan Ayah yang mempunyai perawakan seperti sang panglima pencari cinta yang gagah dan berani menyatakan cintanya kepada Ibu dengan mengucap janji setia sehidup semati.


          Pernikahan kedua orangtuaku yang terbilang sangat sederhana namun syarat akan makna. Ketika itu Ibu berusia 18 tahun dan Ayah berusia 22 tahun. Menikah di usia yang muda, tapi menyisakan cerita yang benar-benar ironis tapi manis tanpa adanya teoritis ataupun tragedi yang tragis. Pernikahan itu telah diracik dengan tali-tali kasih serta rajutan kisah cinta Ibu bersama Ayah. Walaupun usia Ibu dan Ayah masih terbilang sangat muda untuk menjalin sebuah biduk rumah tangga, tetapi dengan terucapnya sebuah janji suci sehidup semati sudah menjadi bukti jika mereka siap untuk hidup bersama selamanya. Diantara hembusan angin malam, kebersamaan itu telah mendongkrak semua sepi yang selalu menggoda di hati.
Mereka melangsungkan hanimun di kampung halaman Ibu, dengan suasana pedesaan yang masih terasa sangat asli dan tak akan pernah terganti dengan suasana perkotaan yang penuh dengan hiruk pikuk kendaraan dan julangan beton-beton pencakar langit. Gunung yang menjulang tinggi, percikan air yang terjun langsung dari ketinggian tebing, serta bunga kopi yang wanginya selalu membius sampai ke tulang-tulang hidung. Tempat yang begitu indah dan memanjakan setiap mata yang melihat alam ciptaan Tuhan itu.

Menjelajahi waktu dengan secara seksama, memanfaatkan waktu dengan secermat mungkin demi terbinanya sutau keluarga yang harmonis. Setelah Ibu menikah dengan Ayah, Ibu tidak berniat untuk langsung mempunyai seorang anak. Maklum Ibu dan Ayah adalah seorang pekerja karyawan swasta yang berada di bawah naungan pabrik tekstil di daerah Banjaran. Mereka terlalu sibuk dengan hiruk pikuk suasana pekerjaan yang selalu terngiang-ngiang dikepala sehingga membuat kepala mereka merunduk ke bawah. Disanalah pula awal cerita mereka bertemu, dan akhirnya merjaut tali kisah kasih dan naik banding ke tingkat yang paling tinggi yaitu menikah.
 Dari terbitnya sang fajar sampai terbenamnya matahari, mereka bekerja banting tulang. Kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki, tidak lain dan tidak bukan mereka hanya ingin membangun sebuah gubuk untuk keluarga kecil mereka nanti. Sebelum mereka mempunyai rumah sendiri, mereka belum berniat untuk mempunyai seorang anak. Itulah prinsip yang mereka pegang teguh setelah menikah dan hidup bersama.
 Satu tahun sudah pernikahan mereka berlalu, uang yang sudah terkumpul agak sedikit, setidaknya cukup untuk membeli beberapa kayu serta genting-genting rumah. Dengan target 2 tahun kedepan 100% rumah impian akan terealisasikan dengan sempurna tanpa adanya unsur huru hara.


Tahun kedua, kendela dalam berumah tangga mulai membabi buta. Seperti sayur tanpa garam, jika dalam menjalani sebuah perjalanan hidup bersama ada kalanya batuan-batuan kerikil dengan setianya menanti di depan mata. Ayah kecelakaan. Ketika Ayah sedang bekerja, tiba-tiba sebuah papan yang sudah lapuk jatuh menimpa kepala Ayah. Tanpa pikir yang panjang dan berbelit-belit, uang yang selama itu sudah terkumpul dipakai untuk biaya berobat Ayah. Mau tidak mau, terpaksa atau secara paksaan akhirnya kepala Ayah diperban seperti mumy Mesir. Sedangkan Ibu bak Ratu Mesir yaitu Ratu Kleopatra yang selalu merawat dan memanjakan Ayah ketika Ayah sedang sakit.
Menanti-nanti lonceng berbunyi untuk memulai membangun sebuah rumah impian. Setelah 3 tahun lamanya, dengan keringat dingin yang selalu mengucur deras seperti air terjun mengalir di seluruh badan, mulai dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Mungkin suasana ketika itu sangat membanggakan, hujan bunga sekaligus hujan air mata. Mereka tunjukan pada dunia, jika setitik tanah dari miliyaran bahkan triliyunan titik tanah di muka bumi ini sudah sah dan menjadi hak milik mereka sebagai mahluk yang mengisi bumi. Lalu setitik tanah itu, mereka jadikan sebuah rumah, rumah khas adat Sunda yang terbuat dari papan untuk tapakan kaki, bilik bambu untuk dindingnya, serta kayu jati sebagai tulang-tulang rumah dan genting tua warna coklat untuk atap rumah.
Pasangan suami istri yang harmonis itu telah mempunyai sebuah gubuk yang sangat sederhana. Dengan rumah yang hampir berdekatan dengan rumah Nenek, serta pohon Mangga yang tumbuh lebat disamping rumahnya. Letak geografis rumah itu terletak di antara rumah Nenek dan rumah tua yang besar kosong tak berpenghuni seperti bangunan tua khas Belanda. Sebelah Barat tedapat rumah warga sekaligus rumah Nenek, sebelah Utara belakang rumah yang berjajaran langsung dengan rumah-rumah warga yang lainnya, sebelah Timur berbatasan dengan rumah tua yag kosong, dan sebelah Selatan berhadapan langsung dengan hamparan sawah yang hijau dan panorama gunung-gunung yang meliuk-liuk seperti frekuensi gelombang yang harmonis.

Setiap waktu yang kosong, dikala mereka libur dengan keramaian mesin dan istirahat sejenak dengan hiruk pikuk suasana sebagai status pekerja pabrik, Ibu dan Ayah selalu menyempatkan diri untuk bersantai bersama. Duduk di depan rumah sambil memandang panorama alam yang terlihat jelas di depan rumah. Sambil tertawa, becanda riang mereka bercerita tentang alur-alur kehidupan mereka. Duduk mesra saling berpandangan mata, semakin menghangatkan suasana pagi yang sangat cerah di saat itu. Suara burung dan sejuknya angin pagi seakan menjadi harmonisasi musik yang merdu. Setidaknya hari libur itu bisa mempererat dan mengikat emosi mereka dalam membina sebuah kehidupan berumah tangga. Serta  semakin terasa juga rasa akan kebersamaan dan rasa akan kekeluargan yang penuh kebahagiaan dan keharmonisan.
Keluarga kecil yang bahagia, namun kebahagian itu kurang lengkap tanpa kehadiran seorang bayi yang lucu dan menggemaskan. Apalagi tujuan orang yang sudah menikah ialah mempunyai seorang anak. Rumah akan terasa sepi jika dihuni oleh dua mahluk saja. Tangisan seorang bayi, gelak tawa seorang bayi, itulah yang bisa menyempurnakan kebahagiaan mereka. Akhirnya Ibu dan Ayah dengan rela hati dan berserah diri kepada illahi merampungkan niatnya untuk mempunyai seorang anak. Tidak menunggu waktu lagi, diantara hembusan angin malam, kebersamaan itu telah mendongkrak semua serahan diri kepada illahi, dengan rela hati mereka mengorbankan waktu untuk mencurahkan semua kepuasan duniawi.


Tak perlu menunggu waktu yang sangat lama, setelah 3 bulan menempati gubuk yang sederhana itu, Ibu mengalami ketidak normalan dalam tubuhnya. Sudah 2 bulan Ibu telat datang bulan. Sebelumnya Ibu hanya menduga jika itu hal biasa, mungkin hanya sakit biasa yang bisa hilang tanpa perlu pengobatan medis. Kemudian Ibu segera memeriksakan diri ke Dokter bersama Ayah. Hal yang mengejutkan ketika Dokter berbicara kepada Ayah, “Selamat anda akan menjadi seorang Ayah”. Ternyata Ibu hamil, Ayah pun bersorak sorai atas berita bahagia yang didengar oleh telinganya sendiri. Ibu pun terenyum lebar, melihat Ayah bahagia.
Ketika usia kehamilan Ibu ganjil 3 bulan, Ibu tidak merasakan ngidam yang aneh-aneh. Ibu hanya meminta, supaya Ayah selalu ada disamping Ibu. Ibu merasa nyaman ketika Ayah berada disampingnya, mungkin naluri seorang Ibu sudah mendarah daging ketika Ibu hamil. Sungguh pemandangan yang sangat romantis, Ayah selalu setia berada disamping Ibu, merawat Ibu dengan sabar, penuh perhatian serta kasih sayang. Ayah selalu mengerti akan keadaan Ibu yang sedang hamil muda, naluri seorang Ayah juga telah mendarah daging ketika Ayah mengetahui jika Ibu hamil. Satu hal yang selalu Ibu lakukan ketika sedang hamil, Ibu sangat rajin membaca Al-quran. Meluangkan waktu untuk membaca ayat-ayat Allah, bisa membuat si cabang bayi dalam perut Ibu tenang. Terkadang Ayah juga suka mengelus-elus perut Ibu, sambil membisikan sesuatu kedalam perut Ibu yang buncit, dan diakhiri dengan kecupan dikening Ibu. Bunyi bisikan itu seperti ini, “Cepat lahir ya Nak, Ayah dan Ibu disini  menanti kehadiranmu, kalau sudah lahir jadilah anak yang baik dan selalu menurut pada Ibu dan Ayah”.

Semakin hari perut Ibu semakin membuncit saja, bobot badan yang dibawa oleh Ibu semakin bertambah berat juga. Seperti tradisi dan sudah menjadi suatu adat kebiasaan suku Sunda, ketika seorang perempuan yang sedang hamil 7 bulan, maka harus melakukan Tujuh Bulanan. Ibu dimandikan dengan air kembang, dengan berbagai macam jenis bunga, terus Ayah memotong buah kelapa menggunakan golok yang sangat tajam, lalu Ibu dan Ayah berjualan rujak tumbuk tapi orang yang membeli rujak itu harus menggunakan uang yang berbentuk bulat bundar dan terbuat dari genting rumah. Entah maksud dan tujuannya seperti apa, tidak jelas apa yang ingin dicapainya dengan melakukan hal seperti itu, yang jelas mereka hanya mengikuti dan menghargai tradisi keluaraga mereka, walaupun dalam segi pembiayaan tradisi itu dibutuhkan dana yang lumayan sangat besar.
Bulan berikutnya, kehamilan Ibu menginjak 8 bulan. Ketika Ibu sedang bersantai di depan rumah sambil minum susu dan melihat orang yang sedang membajak sawah, tiba-tiba perut Ibu sepertinya ada yang menendang-nendang dan ternyata itu adalah si cabang bayi yaitu aku yang masih ada di dalam perut Ibu. Ibu bercerita kepada Ayah, jika perutnya ditendang-tendang Ibu selalu meringis kesakitan, lalu Ayah mencoba menenangkan Ibu dengan mengelus-ngelus perut Ibu. Katanya ketika perut Ibu yang hamil ditendang-tendang seperti itu rasanya sakit, tapi jika dielus-elus oleh sang suami tercinta sakitnya bisa hilang. Oh ya, . . .


Waktu kelahiran sang cabang bayi yang dinanti-nanti oleh Ibu dan Ayah semakin dekat saja, seperti menunggu sebuah moment yang paling berharga selama 3 tahun membina pernikahan. Di usia kehamilan ibu yang ke-9 bulan, Ibu sering sekali merasakan kesemutan dikakinya, kata Ayah kaki Ibu bengkak karena terlalu berat membawa seorang cabang bayi yang belum jelas jenis kelaminnya, entah laki-laki entah perempuan, apakah sehat atau sebaliknya tidak sehat. Apapun yang terjadi nanti serahkan saja semua kepada sang pencipta alam ini. Tapi disinilah sang Ayah selalu berperan penting dalam menyemangati Ibu dengan penuh kasih sayang. Ayah tidak mau jika Ibu sampai menangis dan terlarut dalam sebuah kesedihan yang tidak pasti. Ayah ingin melihat Ibu selalu tersenyum lebar bagaimanapun caranya. Itulah cinta dan kasih sayang seoang Ayah ketika Ibu sedang hamil.
Penantian selama 3 tahun, kerja keras banting tulang untuk mendapatkan rumah impian, berusaha untuk menambah kebahagian dengan memperbanyak penghuni rumah. Sembilan bulan, Ibu membawa janin yang belum jelas perempuan atau laki-laki, cantik atau ganteng, sehat atau tidak. Mereka hanya bersabar dan terus bersabar menanti-nanti anak pertama mereka lahir. 3 tahun lamanya menyajikan sebuah kisah yang tak pernah dilupakan oleh Ibu dan Ayah, membina kehidupan dengan sebuah senyuman yang lebar. Ketulusan hati seorang Ayah dan kesabaran hati seorang Ibu, mengkokohkan mereka menjadi keluarga yang amat sangat sederhana dan bahagia.
Belajar dari kehidupan mereka, berawal dari titik yang tidak mempunyai arti apapun untuk menjalani sebuah kehidupan.  Kemudian titik itu menjadi garis yang bisa mengguratkan sebuah kisah awal dalam kehidupan. Lalu garis itu menjadi sebuah bidang yang mempunyai bentuk dan mulai terlihat gambaran yang jelas untuk menyempurnakan kehidupannya. Bidang yang nantinya akan menghasilkan sebuah gambar dari cerita kehidupan dua insan manusia yang menanti sang cabang bayi.






Potret Memoar IV


ALUR SERAGAM PUTIH MERAH-KU

          Masih teringat dibenak ingatan Ibu, ketika aku lahir dari perutnya, terus bisa tengkurap, duduk sendiri, berjalan, hingga aku mempunyai adik. Ketika aku mulai sekolah kelas satu SD dan mendapat ranking ke-2.  Itulah sebuah moment-moment yang sangat berkesan dan tak pernah dilupakan oleh Ibu.


Selanjutnya alur ceritaku berlanjut ketika menginjak di bangku kelas II SD. Mungkin disinlah aku mulai bisa mengartikan apa itu teman yang benar-benar teman, kawan yang selalu ada ketikaku terancam, lawan dalam perlombaan prestasi, sekaligus musuh dalam selimut. Ketika itu, aku duduk bersama Lia sodaraku dan Erna temanku yang pintar tapi licik dan terkadang menyebalkan. Ketua kelasnya adalah sang juara kelas waktu kelas I dialah Candra Setiawan. Sosok laki-laki yang pendiam, misterius, dan jarang ngomong tapi pinter. Diam-diam aku suka sama Ketua Kelasku itu.
          Sepenggal cerita, Erna teman sebangku yang menyebalkan itu tiba-tiba menyerobot dan menjatuhkanku dari belakang dengan kekuatan tangan besinya, dia langsung melakukan hal seperti itu kepadaku tanpa alasaan dan pikir panjang. Aku terperosok ke dekat tong sampah, terjatuh dan kakiku tergores batu aspal yang kasar. Kakiku terluka hingga berdarah. Lalu tiba-tiba Candra sang ketua kelas menolongku, dan segera melaporkan kejadian itu kepada Ibu Noneng selaku wali kelasku. Lalu Ibu Noneng hanya menegur Erna dan menasehatinya agar kejadian yang serupa tidak terjadi lagi. Usut punya usut, ternyata Erna itu adalah keponkan Ibu Noneng, pantas saja Erna selalu di anak emaskan oleh Ibu Noneng.
Setibanya dirumah, aku menceritakan kejadian itu kepada Ibu. Sepertinya Ibu sangat khawatir akan kejadian itu. Hingga keesokan harinya Ibu mengatrakanku pergi ke sekolah dan menasehati Erna. Ketika itu, Erna terdiam karena dia mengaku salah, dan akhirnya meminta maaf kepadaku. Yaah pelajaran berharga yang aku dapat dari kejadian itu, tak selamanya teman itu baik, terkadang mereka menjadi seorang musuh dan lawan yang harus dikalahkan. Teman, mereka adalah sosok yang selalu memanfaatkanku dan bisa dimanfaatakan olehku. Kita saling ketergantungan satu sama lain. Hubungan simbiosis mutualisme selalu berlaku antara seorang teman dan karibnya.
 


Kelas II aku dipercaya lagi untuk mengikuti lomba menulis. Setelah menang dan menjadi nomor satu di tingkat desa, lalu tingkat kecamatan, dan terakhir tingkat kabupaten aku mendapat juara ke-2. Sayang, kabar angin menyebutkan jika penjurian waktu itu agak sedikit curang. Walaupun tidak menjadi nomor satu, tapi semangat dan gairah untuk belajar selalu bergelora.
          Namun gairah untuk belajarku pupus, dikarenakan waktu itu aku sakit. Sakit yang lumayan menguras antibodi tubuhku. Dokter memfonis jika aku sakit Thypus, Gejala Bronkhitis, Peradangan Tenggorokan, serta Demam. Hampir saja ketika itu aku disuruh untuk di rontagen oleh Dokter. Tapi dalam hati aku optimis akan sembuh, aku bisa sehat lagi. Ibu sangat khawatir akan keadaanku, dengan hati yang tulus Ibu selalu merawatku. Menyuapiku makan walaupun terkadang makanan itu keluar lagi dari mulutku. Tapi Ibu juga yakin jika aku akan sembuh dan bisa kembali sekolah. Selepas Ibu shalat, Ibu selalu mendoakan anaknya supaya bisa sembuh.
Sakit yang memakan waktu lama, tidak terasa ketika itu aku berusia 8 tahun.
Sabtu, 26 Mei 2001
“Selamat Ulang Tahun anakku. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, semakin pintar, semakin sayang kepada Ibu dan Ayah”. Mungkin seperi itulah doa seorang Ibu ketika anaknya berulang tahun. Terimakasih Tuhan, karena engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup di duniamu yang indah ini. Aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah. Hari ulang tahunku yang ke-8. Walapun aku sedang sakit, tapi semoga sakit ini menjadi kekuatan untukku dalam menghadapi segala ujianmu. Selamat Ulang Tahun untuk diriku sendiri.
Selama satu bulan lebih, aku diam di rumah untuk istirahat dan memulihkan tubuhku hingga kembali sehat. Ketinggalan pelajaran itu sudah menjadi resiko seorang pelajar yang sakit. Dengan ridho Allah Swt, akhirnya aku sembuh dan bisa sekolah lagi. Efek dari penyakit itu, membuat rambut di kepalaku rontok dan ketinggalan pelajaran selama satu bulan lebih lamanya. Untung musim gugur yang menerepa rambutku itu tidak membuat kepalaku menjadi botak. Beribu-ribu terima kasih kepada Ibu, karena dia telah sabar merawatku ketika sedang sakit.
30 Juni 2001, kenaikan kelas tiba, prestasiku menurun. Aku mendapat juara 5. The Winner kelas II, tak berubah dan tak berganti tetaplah dia sosok ketua kelas yang diam-diam aku sukai, Candra Setiawan.
 


Alur yang berbeda serta pengalaman hidup yang berbeda. Duduk di kelas III SD. Tidak bosan-bosannya, ketika itu aku duduk lagi bersama Lia saudaraku yang terkadang manis di luar dan pahit di dalam. Dan satu hal yang tak tergantikan, Ketua Kelas waktu itu tidak lain dan tidak bukan Candra Setiawan. Tapi untuk merubah suasana kelas, akhirnya Wali Kelas ketika itu beralih posisi yaitu Ibu Cicah, sosok guru yang selalu enerjik dalam mengajar dan mempunyai suara yang merdu.
Ketika itu, aku dan teman-teman mendengar kabar katanya kelas yang aku tempati itu akan kedatangan dua teman baru, pindahan dari Bogor dan Ciwidey. Ternyata memang benar, ada seorang bocah laki-laki bernama Aif Rahman Arif, dia pindahan dari Bogor dan satu lagi seorang anak perempuan bernama Iis Wartini pindahan dari Ciwidey. Ternyata sosok anak baru pindahan dari Bogor itu, sedikit telah melencengkan perhatiaanku dari sang ketua kelas. Walaupun sedikit, tapi tetap saja melenceng.

Menuju puncak keberanian seiring dengan bertambahnya usiaku. Semakin bertambah usiaku, semakin bertambah pula nilai kehidupanku di dunia ini. Nilai kehidupan yang amat sangat berharga dan tidak ada harganya jika aku tidak memahami semua nilai kehidupan itu.

Minggu, 26 Mei 2002
“Selamat Ulang Tahun anakku. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, semakin pintar, semakin sayang kepada Ibu dan Ayah”. Mungkin seperi itulah doa seorang Ibu ketika anaknya berulang tahun. Terimakasih Tuhan, karena engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup di duniamu yang indah ini. Aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah. Hari ulang tahunku yang ke-9. Menuju puncak untuk mencapai keberanian, buktikan jika aku itu adalah anak yang berani berbuat dan berani bertanggung jawab. Berani dalam segala hal, terkecuali berani dalam berbuat kesalahan. Selamat Ulang Tahun untuk diriku sendiri.
Di kelas III, disinlah aku mulai meraih suatu keberanian yang benar-benar datang dari diriku sendiri tanpa paksaan seorang Ibu maupun paksaan seorang Presiden. Mulai mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Ketika itu semua siswa wajib mengikuti ekstrakulikuler yaitu Pencak Silat. Mungkin ketika itu aku agak sedikit menonjol dalam bidang pencak silat dibandingkan dengan teman-temanku yang lainnya. Semua jurus sudah aku hapal. Mulai dari jurus Parered, sampai jurus Tepak Tilu, dan Padungdung sudah aku kuasai dengan sangat matang. Dan suatu hari, aku di suruh oleh Bapak Mimin selaku guru Pencak Silat untuk pentas disebuah acara hajatan. Dari panggung yang satu ke panggung yang lain, setidaknya pengalaman seperti itu memupukku untuk bisa tampil berani didepan umum. Haiiiciaaa-haciiaaaaah. . . . siapa berani, lawan aku.
29 Juni 2002,  tiba waktunya untuk kenaikan kelas. Penantian yang sangat mendebarkan ketika akan diumumkannya sang juara kelas. Apakah sang ketua kelas akan bertahan di urutan ke satu atau ada pengganti yang baru. Ternyata Teni Lestari, pendatang baru yang menjadi The Winner di kelas ketika itu. Teni wanita yang mempunyai rambut keriting.
 


Libur sekolah telah usai, dan akupun masuk di ruangan baru dan kelas baru dengan baju baru di kelas IV SD. Tapi dengan teman yang sama dan wali kelas yang sama ketika kelas III SD yaitu Ibu Cicah sosok guru yang sangat aku kagumi. Waktu itu aku duduk dengan Teni, ya Teni sang juara kelas ketika di kelas III SD. Sudah jenuh duduk bersama saudaraku Lia, semakin hari dia semakin menjadi. Kini perhatianku tertuju kepada sang juara kelas yang baru. Tau gak sih, ternyata diam-diam Teni juga menyimpan rasa suka kepada Candra. Pengalaman pertamaku dibodoh-bodohi oleh teman sebangku sendiri. Ya teman sebangkuku yang pintar itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa saja yang dia inginkan, merasa berkuasa, dan kekuasaan itu dimanfaatkan dengan semena-mena. Pintar dalam pelajaran it’s ok, tapi pintar dalam membohongi teman sendiri no waay. Teman seperti apakah itu? Aku bukan keledai yang bisa dibodoh-bodohi oleh orang lain. Aku belajar di sekolah itu tidak lain hanya untuk mendidikku supaya aku menjadi anak yang pintar.
Dari sanalah, aku mulai bisa memilih serta membedakan mana teman yang baik dan mana teman yang tidak baik. Memilih dan memilah-milah teman itulah yang aku lakukan agar aku tidak terjerumus dan ikut-ikutan berkuasa dengan kekuasaan yang semena-mena.
Senin, 26 Mei 2003
“Selamat Ulang Tahun anakku. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, semakin pintar, semakin sayang kepada Ibu dan Ayah”. Mungkin seperi itulah doa seorang Ibu ketika anaknya berulang tahun. Terimakasih Tuhan, karena engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup di duniamu yang indah ini. Aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah. Hari ulang tahunku yang ke-10. Di usiaku ini, aku belajar memilah dan meilih teman. Karena teman adalah orang yang akan menemani kita selama kita jauh dari orang tua. Maka dari itu aku harus pintar-pintar dalam memilih  teman. Selamat Ulang Tahun untuk diriku sendiri.
Ketika itu, aku semakin mantap untuk berfantasi dan berekspresi dari panggung satu ke panggung yang lainnya lewat Pencak Silat. Hingga pada suatu saat, ketika manggung dihajatan, aku sampai mendapatkan uang yang banyak dari hasil manggung itu. Uang itu aku tabung dan selebihnya aku serahkan kepada Ibu. Ibu menjadi manager keuanganku selama aku menjadi artis Pencak Silat.
28 Juni 2003, kenaikan kelas menuju tingkat pendewasaan yaitu kelas V SD. Aku masuk lima besar. Ranking 5, lumayan daripada sama sekali gak ranking bahkan gak naik kelas. Oooh tidaak, . . . tidak ada kata gak naik kelas dikamus hidupku.
 


Sama halnya ketika di kelas IV, aku duduk bersama Teni sang Juara kelas yang tak bisa terkalahkan oleh siapapun. Walapun tak henti-hentinya aku seperti dijadikan budak olehnya, tapi have fun, semua yang dilakukan pasti akan ada akibatnya, tinggal menunggu waktu dan tanggal mainnya saja. Suasana seorang pengajarapun berubah, Ibu Lilislah yang mengajar kami di kelas V. Pada saat itu, aku mulai belajar merangkai sebuah persahabatan bersama teman-teman yang telah aku anggap sebagai saudara, mereka adalah Iis Wartini, Lustriana, Nina, Iis Sania, Teni. Juga dimulailah pula rangkaian awal kisah kasih tentang dua insaan manusia antara aku dan dirinya. Dirinya adalah laki-laki, dan aku adalah perempuan.
Rabu, 26 Mei 2004
“Selamat Ulang Tahun anakku. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, semakin pintar, semakin sayang kepada Ibu dan Ayah”. Mungkin seperi itulah doa seorang Ibu ketika anaknya berulang tahun. Terimakasih Tuhan, karena engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup di duniamu yang indah ini. Aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah. Hari ulang tahunku yang ke-11. Menuju pendewasaan. Selamat Ulang Tahun untuk diriku sendiri.
Teringat akan sebuah kejadian, ketika menginjak usia ke-11 tahun, aku diberi tamparaan super ekstra keras dan menyakitkan stadium teratas. Tamparan itu diberikan oleh teman sekaligus kakak kelaku yaitu Teh Mala. Untung saja aku ini orangnya sabar, jadi tamparan itu tidak membuat kami saling baku hantam. Entah, budaya Indonesia memang aneh. Orang yang sedang ulang tahun, malah di tampar dan disakiti. Harusnya orang yang sedang ulang tahun itu diberikan kebahagiaan, diingatkan untuk merubah perilaku hidup menjadi lebih baik. Tapi tidak masalah selama tamparan itu tidak membahayakan dan dalam batas permainan semata, aku tidak akan melaporkan kekerasan itu kepada pihak berwajib.
Semakin dewasa gelora asmara di jiwaku. Di kelas V, aku juga mulai merasakan tetesan rasa–rasa yang indah, dan tetesan rasa itu ku beri nama cinta. Cinta pertama sekaligus Cinta Monyetku jatuh kepada anak baru pindahan dari Bogor yaitu Aif Rahman Arif. Dialah sosok penyemangatku untuk belajar waktu itu. Aif, sosok laki-laki yang mempunyai postur tubuh kurus, tinggi, item tapi manis. Sifatnya yang kocak dan selalu membuatku tertawa setiap harinya. Kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama, belajar bersama, mengerjakan tugas di sekolah. Sampai kebersamaanku dengannya membuat orang terdekatku merasa cemburu. Orang terdekatku ketika itu Teni, sepertinya dia juga memendam rasa iri, karena melihatku bisa bahagia.
Seiring berjalannya waktu cinta monyetku hanya bertahan 3 minggu saja. Kisahku bersama dirinya harus berakhir karena ulah saudaraku yaitu Lia, di telah menceritakan semuanya kepada Ibu. Entah aku tidak mengerti maunya seperti apa, tapi setidaknya dia telah menjadi dalang kehancuran dalam cerita cinta monyetku. Rasa takut terhadap Ibu telah menjadi akhir dari segalanya. Aku takut Ibu marah karena aku sudah berani pacaran. Masih bau kencur sudah berani pacaran. Mungkin ada baiknya juga dengan memutuskan jalan cerita bersamanya, aku lebih memfokuskan diri untuk belajar. Aku juga tidak perlu khawatir atapun was-was, takut ketahuan oleh Ibu.
3 Juni 2004, kenaikan tiba, setidaknya rankingku naik jadi ranking 4. Ternyata semangatku tak pernah berhenti walaupun cinta monyetku sudah mati.

Puncak dimana belajar yang serba ekstrim dan kisah-kisah cinta yang bergejolak menerpa di dalam dada serta persahabatan yang penuh dengan perselisihan, canda dan tawa. Kelas VI, puncak kegembiraan, dan kesenangan serta kesan dan pesan yang didapat selama 6 tahun. Mulai dari kelas I, kelas II, kelas III, kelas IV, kelas V, kelas VI. Masa seperti itu dibutuhkan seorang guru yang tangguh, dialah Bapak Adang, sosok guru yang tangguh, yang mengajar kami tanpa rasa letih. Semangat yang datang untuk menghadapi soal-soal ujian.
Kelas VI, aku duduk dengan Lustriana, tidak dengan Teni. Karena dia sudah mendapatkan hidayah dari Tuhan. Maka dari itu aku berpindah haluan untuk tidak menjadi budak suruhannya. Ketika  itu aku mempunyai sekumpulan teman atau dalam bahasa gaulnya disebut Geng. Geng itu kita beri nama The Girls On Fivers, dimana kelompok itu merupakan kumpulan 5 wanita diantaranya aku sebagai Novi, Ninawati, Iis Sania, Iis Wartini, Lustriana. Cantik-cantik, tentunya pada pintar, pada gaul, dan sangat disegani oleh banyak orang.


Kisah asmaraku bertambah lagi aku mengukir sebuah cerita cinta lagi bersama seorang laki-laki yang bernama Wawan. Dia bocah SMP, karena aku masih awam dalam hal cinta-cintaan jadi aku masih plinplan dalam berpendirian dan akhirnya tanpa alasan yang jelas akupun pergi meningglkannya. Namun seperti peribahasa, hilang satu tumbuh seribu, sosok yang dulu pernah aku sukai, dambai dia adalah sang ketua kelas ketikaku duduk di kelas II dan III. The Winner Candra Setiawan, ternyata selama ini diam-diam dia suka kepadaku. Sungguh disayangkan ketika itu rasa sukaku kepadanya sudah hilang, karena rasa suka itu sudah terlalu lama aku pendam. Semakin lama aku pendam rasa itu, dan akhirnya hilang. Hilang karena suatu saat aku telah menemukan sosok penggantinya. Dengan rayuan sahabat-sahabatku, mereka menjodohkanku dengan Candra. Atas nama sahabat akhirnya aku menyulam sebuah benang-benang cinta bersama Candra. Tanpa pikir yang panjang aku juga setuju dengan sahabat-sahabatku. Ketika Aif mengetahui semua cerita itu, dia marah besar. Berbicara empat mata di sebuah ruangan kelas, aku menjelaskan semuanya secara mendetail. Aku pacaran dengan Candra bukan karena cinta tapi atas nama sahabat. Aif kecewa dengan keputusanku ketika itu, dia tidak terima dengan jalan cerita yang seperti itu. Maafkan aku.
Seiring berjalannya waktu, usiaku juga bertambah.
Kamis, 26 Mei 2005
“Selamat Ulang Tahun anakku. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, semakin pintar, semakin sayang kepada Ibu dan Ayah”. Mungkin seperi itulah doa seorang Ibu ketika anaknya berulang tahun. Terimakasih Tuhan, karena engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup di duniamu yang indah ini. Aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah. Hari ulang tahunku yang ke-12. Menuju puncak untuk mencapai keberanian, buktikan jika aku itu adalah anak yang berani berbuat dan berani bertanggung jawab. Berani dalam segala hal, terkecuali berani dalam berbuat kesalahan. Selamat Ulang Tahun untuk diriku sendiri.
Di ulang tahunku yang ke-12, aku diberikan kejutan oleh sahabat-sahabatku. Tadinya mereka mempunyai niat akan mengguyurku dengan tepung terigu, telur, dan air. Namun rencana mereka gagal, aku sudah mengetahui semua rencana nakal mereka. Walaupun rencana mereka sudah aku gagalkan, tapi satu yang belum aku gagalkan. Rencana si ketua kelas sekaligus pacarku. Ketikaku sedang terdiam dia menghampiriku dari belakang, lalu menimpuk kepalaku dengan telur, PLOOOOOK. Ampun, sakitnya kepalaku tak sebanding dengan sakitnya Aif ketika melihat adegan itu. Sosok yang penuh dengan kejutan. Dia memberi ucapan selamat dengan menimpuk kepalaku dengan telur. Aku sangat kesal dengan perbuatannya, akhirnya aku marah dengan mengeluarkan air mata. Semua rencana digagalkan, karena aku terlanjur marah. Akhirnya semua bahan-bahan adonan kue itu aku bawa ke rumah. Setibanya di rumah, aku dan Ibu membuat kue. Keesokan harinya kue itu aku bagikan. Orang pertama yang menicipi kue itu adalah Candra. Sahabat-sahabatku, mereka semua pada rakus, dengan seketika kue itu langsung habis.
Ceritaku bersama sahabat, Geng The Girls On Fivers terus berjaya. Cerita bersama sang ketua kelaspun terus mengalir bagaikan air. Walaupun pada mulanya aku pacaran atas nama sahabat, tapi seiring berjalnnya waktu rasa itu mulai tumbuh. Sungguh aneh, aku juga nggak tahu, apa yang sebenarnya terjadi ? Misteri apakah ini, apakah ini yang disebut teka teki dalam menjalin sebuah mahligai cinta. Terkadang teka teki itu menyulitkanku untuk menembus jalan keluarnya.
Suatu saat, ada pertandingan olahraga antar sekolah. Ketika itu aku dipercaya menjadi perwakilan dari sekolah untuk mengikuti lomba olahraga dalam bidang atletik. Atletik, olahraga lari, lempar dan lompat. Lari jarak jauh sekitar 120 meter. Di sebuah lapangan sepak bola yang luas, aku bertanding. Aku berada di nomor urut ke-3, ketika itu pemandu lomba mulai menyiapkan peluit. Aku bersiap-siap untuk melakukan perlombaan, pemanasan terlebih dahulu. Sahabat-sahabat dibelakangku berteriak memberiku dukungan. GO Novi, GO Novi, GO GO GO YAAANG. Dukungan mereka membuatku tertawa cekikian ketika itu, hingga si pemandu lomba sempat menegurku. Permainanpun akan segera dimulai, aku mengambil posisi start. Lalu pemandu memberikan aba-aba, SIAP, BERSEDIA, AWAAAAS. . . . . . dan peluit dibunyikan PRIIIIITTT. Dengan semangat bergelora dan keyakinan hati untuk memenangkan perlombaan ini, aku berlari dengan sangat cepat. Sangat sangat cepat, hingga aku merasa mengapung di lapangan. Aku seperti dikejar-kejar oleh seekor Serigala yang kelaparan. Aku haus darah kemenangan. Hingga finish sudah terliat di depan mata, dan akhirnya aku orang yang pertama sampai di finish. Hal yang tak disangka-sangka, di tempat finish sudah menanti sosok laki-laki dan ternyata dia adalah Candra. Dia sengaja menungguku di finish, lalu menyodorkanku sebuah minuman botol sambil mengucapkan “Selamat, kamu menjadi Juara”. Itulah hal yang paling aku ingat sampai sekarang. Dibalik sosoknya yang misterius, dia telah merencanakan sebuah kejutan-kejutan yang tidak disangka. Kejutan itu membuatku selalu tercengang dan kaget.
 Waktu terus berlalu hingga Ujian Nasional (UN) pun dimulai. Ujian selama 5 hari itu, akan menentukan cerita tentang pendidikanku selanjutnya. Akhirnya aku LULUS dengan hasil memuaskan, peringkat ke 3 di sekolah. Jabatan The Winner kini telah tergantikan oleh sahabatku, Iis Wartini dialah The Winner yang baru. Sedangkan Teni, dia beralih posisi ke peringkat 2.
Seperti biasanya setiap 2 tahun sekali, sekolahku selalu memerihkan perpisahan dengan menggelar sebuah upacara adat. Orang yang menjadi The Winner, akan menjadi Raja dan Ratu seharian. Pada saat itu perpisahan angkatanku digelar dengan sangat meriah. Ya, The Winner kita yaitu Iis Wartini menjadi Ratu dan Candra menjadi Rajanya. Karena pada saat itu Candralah laki-laki yang lebih unggul dari laki-laki yang lainnya. Dia menempati peringkat ke-4. Pada saat itu hubunganku bersama Candra masih berjalan dengan baik-baik saja.

Memoar Part III


ANAK-ANAK, INI IBU BUDI !!

Senin, 19 Juli 1999. Hari yang sangat bersejarah karena akhirnya aku bisa merasakan duduk di sebuah bangku kelas untuk pertama kalinya. Hari yang dinanti-nanti olehku akhirnya datang juga. Kelas pertamaku yaitu kelas I SD (Sekolah Dasar).
Ruangan yang teridiri dari bangku dan meja, lemari, buku-buku, papan tulis, dan kapur barus beserta penghapus yang terbuat dari buntalan kain putih. Sudut-sudut ruangan yang masih terlihat bagus karena baru dicat dengan cat tembok yang berwarna merah ati untuk bagian bawah dan putih kecoklat-coklatan untuk bagian atas. Ruangan pertama yang aku singgahi dalam sejarah pendidikanku.
Pengalaman pertama didunia pendidikanku. Aku sekolah di SDN Girimukti, sekolah yang ada disekitar rumah. Jarak antara rumah dan sekolah kurang lebih sekitar 150 meter. Lumayan melelahkan karena hampir setiap hari, aku pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Kaki yang memakai sepatu hitam dan kaus kaki putih.


Bangun dari tidurku, terus mandi tidak lupa menggosok gigi. Kemudian memakai pakaian merah putih, memakai dasi dan topi, serta tak lupa juga untuk memakai sepatu. Tas warna hitam selalu setia melindungiku dari belakang. Isi dalam tas hitamku ada buku beserta alat-alat tulis seperti pensil, penghapus, penggaris, ada juga buku bergambar karena ketika itu aku sedang hobi menggambar. Aku masih ingat, ketika itu aku duduk dibangku pertama barisan ke dua bersama saudaraku yang bernama Lia. Lia adalah saudara sepupuku.
Hari pertama sekolah, aku diantarkan oleh Ibu. Kemudian jam menunjukan pukul 07.00 WIB, dan loncengpun berbunyi. Segera mungkin kami berbaris di depan kelas untuk masuk satu per satu kedalam ruangan kelas. Ketika itu juga dipilihlah seorang KM (Ketua Murid), dan salah satu temanku yang bernama Dadan Lukman terpilih menjadi seorang KM. Kemudian olehnya kami dibariskan serta dipandu oleh Guruku yaitu Ibu Noneng Danengsih. Sebelum semuanya diperkenankan masuk, Ibu Noneng memeriksa kebersihan kuku dan rambut kami. Bagi mereka yang kukunya panjang dan rambut gondrong, tidak diperkenankan untuk masuk ke ruangan kelas. Untungnya kuku dan rambutku ketika itu bersih, jadi aku diperkenankan untuk masuk. Masuk ke kelas dengan perasaan senang, takut, ragu, was-was, tapi dalam hati aku harus berani.
 


Proses belajarpun dimulai, hari pertama sekolah aku belajar berhitung dan membaca. Teringat ketika aku disuruh maju kedepan oleh Bu Guru, lalu dengan santainya aku maju kedepan dan membaca sebuah teks “INI IBU BUDI”. Pengalaman yang sangat berharga, karena sampai saat ini itulah keberanianku yang pertama tanpa rasa malu, dengan polosnya aku maju kedepan.
Hari demi hari terus kulalui sebagai seorang pelajar kelas I SD.  Bulan demi bulan tak terasa telah 6 bulan aku berstatus sebagai seorang pelajar kelas I SD. Hingga suatu hari aku dipercaya oleh Guruku untuk mengikuti lomba menulis tingkat SD. Menulis tegak bersambung, mungkin dulu tulisanku terlihat bagus sehingga aku terpilih untuk ikut serta dalam perlombaan ini. Secara tekhnisnya, perlombaan ini seperti menyalin sebuah tulisan ke dalam tulisan tegak bersambung dan diwaktu selama 30 menit. Akhirnya akupun mendapatkan hasil yang sebanding dengan jerih payah, kerja keras dan keindahan tulisanku, aku medapat Juara II. Walaupun tidak mendapatkan nomer  satu, tapi semangatku terus bergelora seiring berjalannya waktu.
 


Jumat, 26 Mei 2000
“Selamat Ulang Tahun anakku. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, semakin pintar, semakin sayang kepada Ibu dan Ayah”. Mungkin seperi itulah doa seorang Ibu ketika anaknya berulang tahun. Terimakasih Tuhan, karena engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup di duniamu yang indah ini. Aku masih bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah. Hari ulang tahunku yang ke-7. Di ulang tahunku ini sangat berbeda dengan ulang tahun sebelumnya, kali ini aku berstatus sebagai pelajar kelas 1 SD yang sebentar lagi akan naik ke kelas 2.
Tidak terasa, satu tahun telah berlalu. Pembagian buku laporan hasil belajar selama satu tahunpun dibagikan seiringan dengan kelulusan kelas VI.
1 Juli 2000, ketika itu acara perpisahan sangat meriah, akupun teringat akan suatu kejadian yang mengegerkan, panggung hiburan di sekolahku runtuh. Semua para siswa dan orangtua pun panik. Tapi untung panggung yang runtuh itu tidak memakan korban.
Pengumuman para juara pun dimulai, Juara 1 kelas I jatuh kepada Candra Setiwan, yaaah aku cuma bisa menundukan kepala dan dalam hati aku kecewa ternyata bukan aku yang jadi nomor satu di kelas, lalu Ibu mengusap kepalaku. Juara ke-2 adalah Novi Adriyanti, yeeeeeh aku berteriak dan bergegas pergi kepanggung untuk mengambil hadiah, dan tidak lupa untuk mencium tangan ibu. Dalam hati aku berteriak, sorak sorai kebahagian menimpaku. Juara ke 3 jatuh kepada Erna Kristiana.
Prestasi yang lumayan memuaskan, Setidaknya waktu itu aku mendapatkan hadiah dari hasil kerja dan usahaku. Terimakasih Tuhan.


Surat Rahasia Publik

Bandung, 15 Juni 2008
Untuk Kang Sopar

Meskipun hari ulang hari dan kita bertemu sepanjang waktu
Tapi baru kali ini aku bisa mengeluarkan isi hati
Isi dari lubuk hatiku yang tak pernah kamu tahu
Sebenarnya aku cinta sama kamu
Sekali lagi aku ucapkan aku cinta kamu

Seandainya memang hati ini untukmu
Aku pasti merasa ragu dan kaku
Ketikaku melihat matamu
Penuh cinta dan suka
Saatku pandang matamu
Luluh terasa jiwa ragaku ini

Kemana aku cari cintamu
Kemana aku curi hatimu
Aku tak mau memaksakan kehendakmu
Tapi yang kumau hanya pengertianmu

Ini surat kutukan
·         Dibaca mimisan
·         Ga dibaca ingusan
·         Dibales kudisan
·         Gak dibales panuan
·         Di simpankurapan
·         Gak di simpan bisukan
·         Awas lhoo salah pilih

Novi adriyanti

Followers